Thursday, September 13, 2012

Backpacking Trip To Ujung Kulon National Park

Karang Copong
July 6th - July 9th 2012

Tawaran untuk backpacking ke tempat ni datang dari Angga, temen sesama traveler yang gw kenal bulan April silam sewaktu backpacking ke Pulau Sempu, Malang Selatan. Gw kemudian bilang, “ayo di arrange, qt backpacking kesana!.” Tergoda dengan foto-foto luar biasa di Karang Copong dan pantai cantik yang bernama Peucang, belum lagi kesempatan luar biasa untuk bertemu dengan satwa-satwa yang dilindungi di alam liar. I really can’t wait. Kita pun mulai mengumpulkan massa dengan mengajak teman hingga teman dari teman yang mempunyai prinsip sama, yaitu jalan sejauh-jauhnya dengan biaya sekecil-kecilnya. Akhirnya terkumpulah lima belas orang yang awalnya jaim tapi ternyata bocor abis. Kami pun mengadakan beberapa kali kopdar (istilah untuk teknikal meeting) yang sebagian besar agendanya adalah membahas sewa mobil darimana, mau tidur dimana, disana ntar makan apa, aman atau gak dan sebagainya. Setelah beberapa kali kopdar akhirnya diputuskan kita akan sharing cost Rp. 350.000,- dengan cakupan biaya berupa ongkos transportasi dari Jakarta ke Serang PP, Sewa elf dari Serang ke Taman Jaya (Sumur) PP, sewa boat, tour guide, biaya masuk taman nasional dan keamanan. Itinerary pun disiapkan dengan harapan trip ini akan berjalan mulus semulus bemper mercy E250. Hehe. Total biaya diatas belum termasuk biaya makan karena semua persediaan logistik kami putuskan untuk bawa dari Jakarta mengingat disananya nanti harganya mungkin mahal dan kami bekpeker-bekpeker busuk ini emang ketat banget kalo masalah budget (re: pelit), Kidding. :D

Tibalah hari H, gw yng panik berat karena jam 6 masih di kantor, akhirnya ninggalin kerjaan yang numpuk karena takut nanti kena macet dan telat. Gw udh janjian dengan beberapa teman untuk barengan ke meeting point di Terminal Kampung Rambutan, berangkat dari Plaza Semanggi untuk pake busway. Karena waktu mepet dan takut telat, gw akhirnya naik ojek dengan biaya Rp. 15.000,- FYI, gw adalah perempuan anti ojek. Gw ngeri naek ojek di Jakarta karena teknik nyetir motornya yang super gokil salip sana salip sini tapi Thanked God gw tiba di tempat tujuan dengan selamat. Dari Plangi kami masih harus menempuh perjalanan melewati macetnya Gatot Subroto di hari jumat dan bertepatan dengan jam pulang kantor. Lirik ke halte busway, hopeless. Antrian di halte busway transit tujuan kampung rambutan sudah meng-ular hingga ribuan orang. Dadah dadah pada Rp. 3.500,- (re:ongkos busway), karena akhirnya kami mutusin untuk naik kopaja aja. Harapannya sih agak biar bisa lebih cepet nyampe. Naik kopaja dengan ransel besar dan berat sungguh bukan merupakan hal yang mudah, syukur-syukur kalo kebagian tempat duduk setidaknya ransel yang berat ini bisa dipangku, nah kalo gak kebagian tempat duduk terima nasib ajalah bakal ditabrak sana sini sama penumpang yang lain. Perjalanan terasa lama banget, benar saja begitu tiba di Kp. Rambutan jam udah nunjukin pukul 9 lebih. Semua anggota rombongan udah nunggu begitu juga dengan bis trayek Jakarta-Merak yang akan kami tumpangi, bis terakhir hari itu. Gak berapa lama, bis pun berangkat. Gw otomatis mengatur posisi tidur yang paling nyaman namun sayang rencana tidur gagal total karena bis penuh sesak. Bagian terparah adalah tol ke Merak yang macet banget dan mp3 player bis nonstop memutar lagu dangdut jadul berulang kali sampe telinga rasanya kebas. Hufft.

Rombongan turun di terminal pakupatan serang, untuk kemudian lanjut ke Taman Jaya dengan menggunakan elf carteran. Dua temen gw (si Angga dan Eno) udah berangkat duluan ke Serang untuk mastiin kita dapetin elf carteran, Thanked God we got it. Terminal Pakupatan mungkin adalah terminal bis antarkota yang paling berdebu yang pernah gw datengin, tapi mungkin karena si terminal ini lagi dalam masa renovasi. Sebelum berangkat ke Taman Jaya, kami pun mampir di Indomaret terdekat untuk sekedar beli keperluan seperti air minum dalam kemasan beserta barang-barang penting lainnya untuk bekal camping nanti di pulau. Setelah mengepack semua barang kami diatas elf, akhirnya kami siap untuk bertempur dengan medan jalan yang luar biasa ancur selama kurang lebih delapan jam. Langit mulai berwarna keunguan dan fajar hampir menyingsing ketika kami tiba di penginapan Sunda Jaya milik Pak Komar. Turun dari mobil dan merebahkan badan ke bale-bale penginapan sungguh huge relieves. Pantas tepos dan sendi linu. Dalam hati gw berdoa, "Oh Tuhan, jauhkan hamba dari belenggu keteposan, Amin." Bale-bale penginapan yang dimilik Pak Komar ini bernuansa pedesaan pesisir pantai yang memadai fasilitasnya. Selain mengelola penginapan, beliau juga memilik boat yag disewakan untuk sekedar menyeberang ke pulau atau untuk hoping island. Dari dialah kami menyewa boat yang akan kami gunakan selama 2 hari. Karena kami akan menyewa boat dan jasa guide dari pak Komar, maka kami semua pun mendapat komplimen untuk menggunakan kamar mandi dan air bersih di penginapan untuk MCK. Setelah bersih dan berganti pakaian, akhirnya kami bertolak ke long boat pak Komar yang sudah ready parkir manis di jetty Taman Jaya. Pemandangan dari Taman Jaya pun sangatlah bagus, pantai berpasir putih membentang panjang dengan matahari yang bersinar hangat. Ah, sungguh awal hari yang luar biasa.
Dermaga Pulau Peucang
Tiga jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang ke Pulau Peucang, destinasi pertama kami. Jam demi jam berlalu, terlihat di kejauhan gradasi air laut dengan warna hijau toska, biru dongker dan putih.. sungguh surga. Kami pun sibuk mengabadikan pulau ini tanpa tahu kami sudah sampai di pulau Peucang yang termashyur, pantai yang luar biasa indah. Air lautnya yang jernih seakan menyanyikan melodinya, memanggil raga ini untuk segera menceburkan diri. Dari tepi pantai Peucang ini, kami kemudian akan tracking menulusuri hutan ke Karang Copong. Sepanjang perjalanan tracking, mata dimanjakan dengan pemandangan satwa liar seperti rusa, babi hutan dan burung merak. Mereka hidup bebas, senang banget gw ngeliatnya. Sekitar satu jam tiga puluh menit, tibalah kami di Karang Copong. Kata mamang guide, dinamakan Karang Copong karena tengahnya bolong. Spot paling bagus untuk melihat karang copong ini adalah dengan mendaki sedikit ke atas tebing karang curam yang ditumbuhi pepohonan rindang. Pemandangan air laut yang biru lengkap dengan ikan-ikan yang berenang bebas kesana-kemari sungguh benar-benar membuat betah. Foto-foto narsis pun kudu dilakukan disini biar semua orang tau, “I’ve been here man!” LOL. Look at the skies, so pretty. Look at down there, amazing. Oh, my beautiful Indonesia, sedikit banyak ketika kita mempostingnya ke situs media sosial kita bisa bantuin mempromosikan Indonesia ke khalayak ramai diluar sana. Hehehe. Dari Karang Copong, kami pun harus kembali ke tepi pantai untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Sesampainya disana, kami harus menerima kabar bahwa ternyata kami gak boleh mendirikan tenda di Pulau Peucang karena Peucang adalah Taman Nasional dan memang sudah peraturannya yang mengatur dan walau dengan berat hati harus kami taati. Lagipula kata mamang guide, kami masih bisa kemping di pulau seberang, pulau Cidaon. Setelah puas foto lompat-lompat sampai bengek di pinggir pantai, foto kayang hingga guling-guling di pasir, kami pun bertolak ke Pulau Cidaon, destinasi berikutnya. Di pulau ini, terdapat satu padang luas seperti a mini African savannah yang disebut Padang Cidaon dimana banyak Banteng, Kerbau dan sapi yang sering terlihat bergerombol, merumput dan kalo kata gw sih mereka haus kasih sayang. Terbukti dari mereka seneng banget kalo diliatin wisatawan dan kliatan antusias untuk selalu berpose seru di setiap frame. Kalo saja si Banteng gak galak, mungkin udah gw tepokin pantatnya yang unyu-unyu (re:lucu) itu. Hehehe.
Padang Cidaon
Waktu udah sore ketika kami semua selesai foto-foto narsis sama banteng-banteng ganas dengan pose cantiknya di kejauhan. Udah saatnya pula kami nyari lapak untuk diriin tenda. Tenda dome yang banyak drama, LOL. Gw critain aja lah, jadi satu hari sebelum hari H gw lagi super panik nyariin tenda. Gw yang ditugasin jadi Cp buat nyariin tenda. Telpon kesana-kemari, rata-rata semua tenda udah ada yang nyewa dan gw gak kebagian sampe gw dial satu nomor yang bilang kalo mereka punya tenda dome yang gw mau, tinggal bilang deal doang dan tiba-tiba telepon terputus gw gak tau kenapa. Gw cek pulsa gw, masih banyak. Lalu ini kenapa yah Gusti, gw mau gak mau harus panik juga. Puluhan kali gw telponin beberapa nomor hunting yange tersedia di wesbsite si jasa penyewaan tenda ini, tapi gak ada satupun yang nyambung. Dengan sedih dan pasrah gw kemudian ngumumin lewat bbm kalo gw gak berhasil dapetin tenda dan nanti mungkin di Peucang kita bakal tidur beralaskan koran, di tengah hutan, horos abis, merinding gw. Tapi gw gak nyerah gitu aj, gw terus coba hubungin nomor telpon mas yang tadi namun pada akhirnya tetap aja nihil, dissapointed abis. Udah mau give up dan gw mutusin ini telpon gw yang terakhir kali, jam 11:30 PM dan nyambung.. Si mas disebrang telpon dengan nyantenya bilang, “Maaf yah mbak fila, tadi hape saya abis batt-nya. Udah sampe mana omongan kita, mbak fila jadi mau nyewa tenda yang mana?” Oh, Tuhan Yesus Baik. Akhirnya gw dapet tenda dan sesegera itupun gw booking dan ngasih tau ke temen-temen, “Kita batal tidur pake koran, gw udah nemu tenda” mereka sontak ber”hurraaay” ria dan gw pun pada akhirnya bisa tidur dengan tenang.
Huba-Huba Team
Lapak untuk mendirikan tenda, di cari dan tentukan oleh mamang guide. Dia berpengalaman, sangat keliatan dan kami memutuskan untuk percaya. Lapak kami terletak di tepi pantai, cukup jauh dari bibir pantai sehingga kalo pasang nanti tenda tidak akan kemasukan air. Lokasi kami berjarak sekitar satu kilometer dari dermaga Pulau Cidaon, ngesot-ngesot dikit nyampelah. Yang terpenting kita gak perlu nembus hutan pekat yang banyak banteng liar, itu aja. Setelah perjuangan tangguh akhirnya empat buah tenda dome dengan kapasitas empat sampai lima orang berhasil kami dirikan. Para ladies ditugaskan untuk memasak makan malam, gw lantas milih bangun tenda aja along with the boys karena gw sadar diri akan kegagalan gw dalam departemen dalam negeri tersebut. Anyone can cook man, including me. Just a matter of time, trust me. :D Malam pun menyelimuti pulau cidaon. Tenda telah berhasil kami dirikan, makanan pun berhasil disajikan. Lauk kami malam itu adalah sarden kalengan, nasi dan mie goreng berbagi rasa yang dimasak jadi satu di panci mungil hasil pinjeman dari mamang guide. Setelah selesai menyantap makan malam mewah kami, mencuci peralatan makan (menggunakan air garam :D), kamipun duduk leyeh-leyeh ditepi pantai, beberapa pria mengumpulkan kayu bakar untuk bekal api unggun. Malam itu angin berhembus lembut dan air laut hangat. Benar kata mbak Trinity yang kurang lebih bunyinya seperti ini, As Indonesian people, we have to be very grateful because our sea water is warmth along the year. Gw sama widi berenang geje sambil ngeliatin langit ungu bertabur bintang. Untunglah di Pulau Cidaon ini terdapat sumber air tawar, yang walaupun gw kagak tau sumbernya darimana dan apakah air itu bisa diminum ato gak yang pada akhirnya juga kami gunakan untuk masak nasi keesokan harinya karena persediaan air mineral kemasan kami menipis. Serasa menyatu banget sama alam. Setelah kami bangun, sarapan, mck, becanda”, ngumpulin kerang, packing, robohin tenda, sweeping sampah, it’s time to say goodbye ke Pulau Cidaon. Kami pun on board ke kapal yang nunggu di dermaga untuk menuju destinasi berikutnya, Pantai Cibom. Jarak dari Pulau Cidaon sendiri ke Pantai Cibom gak begitu jauh, stengah jam melaut pake long boat akhirnya kami tiba. Sayangnya, boat gak bisa sandar di tepian karena air laut lagi surut. Kami pun langsung bersiap untuk snorkeling atau sekedar berenang menggosongkan kulit di air laut yang biru itu. Byar byur byar, hati senang karena ketawa lepas. Hal yang paling sulit dilakukan mungkin hanya bagian naik kembali ke kapal dengan baju yang basah dan raga yang lelah, hahaha. Di long boat kami gak tersedia tangga untuk memudahkan naik atau turun, jadilah kami pake sistem tarik menarik pegangan di ban mobil yang ada di samping kapal. Semua sih sukses naik pada akhirnya, hihihi. Puas berenang dan foto-foto akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya yaitu snorkeling di dekat pantai Peucang. Mungkin ini adalah salah satu moment snorkeling yang gak terlupakan karena pantainya cantik banget, pasirnya lembut banget, airnya biru dan menggoda banget dan matahari yang bikin gosong abis. Lengkaplah, perjalanan ini karena kalo lo ke pantai dan lo gak gosong berarti lo gak kepantai. Hahahaha. Kamipun menempuh perjalanan balik ke Taman Jaya / Sumur, yang sebagian besar waktunya kami habiskan dengan malang melintang tidur di dek long boat. Gw sempet tidur hampir 2 jam kemudian terbangun karena dingin banget, ternyata tidur dengan baju basah di dek kapal bukanlah ide cemerlang. Setelah kapal sandar dan tertambat sempurna didermaga, kami pun unloaded barang-barang dan menuju Penginapan milik Pak Komar untuk MCK dan makan sebelum balik ke Jakarta. Setelah pamitan sama pak Komar, kami pun siap menempuh rute brutal dari sumur ke serang. Selama perjalanan gw gak bisa tidur mungkin karena jalanannya tipe super extreme off-road, sementara yang lain bisa pules aja gak neko-neko gitu tidurnya. Tapi mau ngeluh diperjalanan pulang sehabis melihat sepotong surga di ujung Jawa rasanya agak kurang tepat, gw kemudian mencoba tidur namun gagal lagi gagal lagi dan gw kembali berpikir kok bisa yah gw tidur waktu perjalanan awal dari Serang ke Sumur, hahaha, gak tau lah. Kami pun sempat mampir di Labuan untuk sekedar beli oleh-oleh dan nyobain mie bakso dan mie ayam yang murah meriah. Perjalanan pun dilanjutkan, tujuan Serang. Raga sungguh benar-benar berasa terkalahkan oleh perjalanan brutal dari Sumur, setelah sampai di satu titik daerah Banten ada perbaikan jalan yang menyebabkan macet berjam-jam karena diterapkan sistem buka-tutup jalan. Gw pun kemudian ngobrol ngalor ngidul bareng Andre dan adiknya demi membunuh waktu sementara yang lain tidur pules bak tidur dikamar hotel, hahaha.

Kami tiba di terminal Pakupatan, Serang pukul 23:30 malam itu. Jalanan sepi suram, kami pun akhirnya nunggu bis didepan kantor polis diperempatan jalan. Udah nunggu berjam-jam, tapi gak ada bis tujuan Jakarta yang nongol. Malang nian nasib kami, ditambah paginya sebagian besar dari kami harus ngantor. Setelah berjam-jam gak ada hasilnya, kami pun akhirnya mutusin untuk nyewa mobil, pengennya sih nyewa mobil yang laen tapi apa daya yang waktu itu lewat hanyalah angkot kecil merah yang untunglah pak supirnya mau kami bayar Rp. 300.000 untuk nganterin sampai ke Lebakbulus. Ahay, percayalah gw baru bisa tidur dalam angkot kecil butek ini, eh tapi belum berapa lama gw tidur bau nyengat kopling tercium dasyat. Ah uh oh, ternyata si kecil mungil butek mobil angkot ini mengalami kerusakan mesin, entah masalah suspensi atau apa, karena kerusakan mesin inilah kami gak dapat melanjutkan perjalanan sampai lebakbulus. Jam menunjukan pukul 03:00, kami diturunkan di daerah deket Ciledug yang kemudian berakhir dengan perpisahan singkat sambil menyetop taksi yang akan mengantar kami balik ke rumah masing-masing dengan membawa pulang pengalaman luar biasa, suka duka backpacking ke Ujungkulon.
*Catatan pengeluaran:

No Rincian pengeluaran               in Rp 
1 Sewa Tenda              300,000
2 Bensin & Tips                20,000
3 Sarapan              195,000
4 Guide              200,000
5 Makan Guide                30,000
6 Service Kelapa                20,000
7 HTM                77,000
8 HTM Cidaon                60,000
9 HTM Tg. Layar                60,000
10 HTM Cibom                60,000
11 HTM Karang Copong                60,000
12 Kapal           1,800,000
13 Biaya pendirian tenda                80,000
14 Elf PP          1,300,000
15 Tip buat supir elf                20,000
16 Tip nahkoda                30,000
17 OB antar tenda                30,000
18 Keamanan              100,000
19 Tip Ojek                 25,000
20 Air minum                37,000
  Total          4,504,000    
Jumlah di atas kemudian di bagi 14 (sharing cost per peserta) jadilah 1 orang hanya perlu membayar Rp. 321, 714 untuk pengalaman tak terlupakan.. hehehe..

2 comments:

  1. Sungguh artikel yg sangat bagus !

    Mohon info, jalan darat yg sangat "ancur" itu dari mana kemana selama 8 jam ? Kami ada rencana kt TN Ujung Kulon melalui jalan darat, Carita, Tanjung Lesung dst.

    Tks,
    Tanto

    ReplyDelete
  2. mantabb!!!!!! gw suka cara mendetail-kan nya!!!! lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiii dooonkkkk!!!!!!

    ReplyDelete